Memfoto Hujan

musim penghujan sudah tiba, dan guyuran airnya brrr…. adem euy 😀

kalimat “sedia payung sebelum hujan” pun jadi pedoman kalo gini, tapi saat itu di saku saya pas ada kamera seadanya,  dan sejenak m(emf)oto momen jatuhnya hujan tersebut, berikut diantaranya 🙂

11

1

33

hujan

slamat datang hujan

Bertemu lagi dengan Nasruddin Hoja

ngakak habis (lol) sejal awal membacanya, dan gak keasa sudah khatam beberapa jam kemudian. membacanya kembali pun masih bikin ngakak. sekitar pertengahan tahun 2002 aku boleh minjem buku tentang kisah sang mullah–sufi yang jenaka ini dari jarwadi.

Baca lebih lanjut

masih bulan april

masih ada beberapa jam/hari sebelum bulan april ini usai. yang mana masih ada waktu untuk ngecake voucher sebelum hangus bin kadaluwarsa. ceritanya dapet gratisan dari temen yang gak sempat gunain vouchernya yang didapat sekitar bulan februari lalu.  katanya “kalo suka nonton pake aja, tapi aku gak jamin masih bisa dipakai atau gak”  sambil memberikan vouchernya kepada saya.

voucher hampir kadaluarsa

suwun masbro, tapi ngomong-ngomong kok dianggurin vouchernya? “gak ada waktu” katanya. heuheu…. 🙂

Layang-layang Tanpa Ekor

Tak seramai musim-musim sebelumnya. Rame adik-adik bersemangat menerbangkan layang-layangnya di lahan kosong depan kos itu kini sulit dijumpai. Lahan kosong itu sudah jadi bangunan megah. Area bermain sedikit berpindah.  Landasan pacu layang-layang mungkin menyempit. Tapi angkasa tak pernah menyempit.

Bermain layang-layang cukup membuat saya ngos-ngosan (dulu). 🙂 Saya termasuk yang susah dan hampir tak pernah berhasil menerbangkan layang-layang tanpa ekor. Agar tidak terlalu capek layang-layangku dulu selalu saya beri ekor (gak panjang-panjang amat juga sih) yang penting bisa membuat layanganku cepet terbang. Kalimat “halah… layanganya pake ekor” selalu membuat saya berjengit dan menoleh. Cuek gak bisa mbales kalimat teman saya tadi. :(Ikut menikmati saja aksi akrobatik layang-layang tanpa ekor selau menggoda layang-layangku yang anteng di angkasa.

layangan

Kini hanya bisa ngiri lihat adik-adik semangat menerbangkan layang-layangnya. Walau dengan landasan pacu yang sempit tapi  menerbangkan dan mengadu layang-layang tanpa ekornya, si adik tak pernah capek. 🙂 Menjinakkaan layang-layang tanpa ekor butuh kesabaran yang tak ku punyai dari dulu. Ikut seneng aja melihat adik-adik yang semangat dengan layang-layangnya. Aksi akrobatik layang-layang selalu jadi penghibur bagi si adik pilot layangan dan juga saya. Sudah sore rupanya, tapi… sebentar

hehee..,  dik boleh ikut ngendaliin layang-layangnya (dari dulu gagal menjinakkan layang-layang tanpa ekor) 🙂

New Book

biography of the maestro; friends at the end of the year, encourage the spirit to return strike, drawing, painting…

 

biografi

happy reads

catatan mudik

musim mudik tahun inisudah tiba. tradisi silaturahmi mengunjungi saudara keluaga dan tentunya kampung (kota) halaman pada saat lebaran. *ramadhan kali ini sudah berapa kali mudik ya? (maklum pemudik lokal akdp) 🙂 pemudik lokal maupun interlokal sama sebutannya PEMUDIK, dan sapaan hangat yang sama (keramahan kampung halaman).

bukan menceritakan mudik pada msim ini, tapi hanya memposting tulisan yang tercatat pada mobile classicku pada mdik tahun lalu. beginilah…

“tak seperti halnya mudik akhir pekan yang cukup padat ini mdik lebaran, trafik jauh lebih padat. kurang lebih satu jam mendaki bukit tinggi–pathuk gunungkidul, dengan view jogja yang mulai memerah senja menjadi sensasi tersendiri. perjalanan yang  nyantai tidak  buru-buru untuk melintasi jalanan jogja-wonosari. penjual aneka jajanan berbuka puasa yang penuh semangat dengan jajanannya juga warung makan yang memajang papan namanya besar-besar “DAPUR MAMA” (ada yang unik dari warung ini) hmm… mudik selalu aseek.

terus melintas dan mulai menanjak, yah bukit bintang selalu rame untuk menikmati kota jogja dari ketinggian. mulai memasuki rest area dan hutan bunder (track favorit) jalanan yang penuh dengan pepohonan. jalanan yang selalu sejuk untuk dilintasi meski pepohonan sekitar mulai mencoklat kekuningan. perjalananpun berhenti sesampai di finish, rumah  dengan segala kehangatannya.tak lama kemudian adzan maghrib pun menyambut, tanda saatnya berbuka. menu buka puasa (masakan ibu) yang penuh dengan  beragam rasa dunia; seasin telur asin, sepahit oseng pare dan semanis degan (kelapa muda)semua rasa ada serasa kehidupan yang penuh dengan rona-ronanya. selamat berbuka (sobat) semuanya.”

9 agustus 2011, melihat tanggal catatan mudik pada mobile classicku. selamat mudik mudikers, ceritamu selalu siap untuk didengar dan dibagi

tausiakustik w/ gus candra malik

sepintas saat melintas di jalan laksda adi sucipto yogyakarta, poster yang sepertinya tak asing (pernah lihat) terpampang di samping halte trans jogja wanitatama. sesaat memelankan laju motor dan membaca sekilas dan ternyata iya, itu seperti di album kidung sufi samudera cinta nya gus candra malik.

beberapa pekan yang lalu sosial media dan berita online menuliskan tentang album dari gus candra malik. beberapa tokoh musisi, seniman, budayawan, sampai kiai ikut berperan dalam album tersebut. (makin penasaran).

kembali ke keyboard untuk review via mbah google untuk melihat seperti apa isi dari album tersebut dan menemukan beberapa diantaranya.

jogja banget to??

nah, mumpung besok ada tausiakstik di benteng vredebrg, yang mana akan mengalir disitu kidung sufi samudera cinta’nya gus candra malik, yuuk merapat 🙂

untuk lebih akrab dengan beliau (sufi kota) bisa mengikuti akun twitternya @candramalik atau mampir ke berandanya di http://www.candramalik.com (kesambet fatwa rindu, kangen meradang pokoke)